
link selengkapnya : @digitalindoacademy.com
Apa Itu Content Pillar dan Bagaimana Cara Menentukannya
Apa Itu Content Pillar?
Content pillar adalah kategori atau tema utama yang digunakan sebagai dasar dalam membuat berbagai konten. Content pillar membantu creator menjaga arah pembahasan agar tetap sesuai dengan niche dan target audiens.
Dengan content pillar, creator tidak perlu mencari ide baru dari awal setiap kali ingin membuat konten.
Mengapa Content Pillar Penting?
1. Membantu Menentukan Ide Konten
Content pillar menjadi sumber untuk mengembangkan banyak ide.
Misalnya niche Desain Grafis memiliki content pillar:
- Tips desain.
- Tutorial.
- Fotografi.
- Branding.
- Portofolio.
Setiap kategori tersebut dapat menghasilkan banyak topik.
2. Membantu Menjaga Fokus
Content pillar membantu akun tetap memiliki arah yang jelas sehingga audiens lebih mudah memahami topik utama yang dibahas.
3. Mempermudah Content Planning
Creator dapat mengatur jadwal berdasarkan kategori konten.
4. Membantu Menganalisis Performa
Creator dapat membandingkan performa setiap content pillar untuk mengetahui kategori mana yang mendapatkan respons terbaik.
Bagaimana Cara Menentukan Content Pillar?
1. Tentukan Niche
Pertama, tentukan bidang utama akun.
Contohnya:
Desain Komunikasi Visual.
2. Kenali Target Audiens
Cari tahu siapa yang ingin dijangkau.
Contohnya:
Pelajar dan pemula yang ingin belajar desain.
3. Cari Kebutuhan Audiens
Perhatikan pertanyaan dan masalah yang sering mereka hadapi.
Contohnya:
- Sulit memilih font.
- Bingung menentukan warna.
- Tidak tahu membuat layout.
- Kesulitan menggunakan software desain.
4. Kelompokkan Topik
Kelompokkan berbagai masalah tersebut ke dalam beberapa kategori.
Contohnya:
Tutorial: Cara menggunakan software.
Tips: Cara memilih font.
Edukasi: Teori warna.
Inspirasi: Referensi desain.
Portofolio: Hasil karya.
Berapa Banyak Content Pillar yang Sebaiknya Digunakan?
Tidak ada jumlah yang wajib.
Untuk pemula, 3–5 content pillar dapat menjadi titik awal yang sederhana.
Contohnya:
- Edukasi.
- Tutorial.
- Inspirasi.
- Portofolio.
- Behind the scenes.
Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan niche dan kemampuan produksi.
Contoh Content Pillar untuk Content Creator DKV
1. Edukasi Desain
Contoh:
“Apa Itu Hierarki Visual dalam Desain?”
2. Tutorial
Contoh:
“Cara Membuat Poster Sederhana di Photoshop.”
3. Fotografi
Contoh:
“5 Tips Fotografi Produk untuk Pemula.”
4. Portofolio
Contoh:
“Proses Membuat Identitas Visual Sebuah Brand.”
5. Behind the Scenes
Contoh:
“Proses Membuat Poster dari Sketsa hingga Final.”
Bagaimana Analytics Membantu Menentukan Content Pillar?
Analytics dapat digunakan untuk membandingkan performa masing-masing kategori.
Contoh:
| Content Pillar | Views | Saves | Shares |
|---|---|---|---|
| Tutorial | 10.000 | 900 | 350 |
| Edukasi | 7.000 | 600 | 200 |
| Portofolio | 5.000 | 250 | 100 |
| Behind the scenes | 8.000 | 400 | 180 |
Dalam contoh tersebut, Tutorial mendapatkan performa yang kuat pada saves dan shares.
Creator dapat mengembangkan lebih banyak topik tutorial, sambil tetap mempertahankan kategori lainnya agar akun tidak terlalu monoton.
Apakah Content Pillar Harus Selalu Sama?
Content pillar dapat berkembang.
Jika data menunjukkan audiens mulai tertarik pada topik baru yang masih sesuai dengan niche, creator dapat menguji kategori tersebut.
Contohnya:
Awalnya:
Desain → Tutorial → Portofolio
Kemudian berdasarkan respons audiens, creator dapat menambahkan:
Karier DKV → Tips PKL → Portofolio Kreatif
Perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar identitas akun tetap jelas.
Bagaimana Cara Membuat Banyak Ide dari Satu Content Pillar?
Misalnya content pillar:
Tipografi.
Dapat dikembangkan menjadi:
- Apa itu tipografi?
- Jenis-jenis font.
- Cara memilih font.
- Kesalahan menggunakan font.
- Kombinasi font.
- Hierarki tipografi.
- Font untuk poster.
- Font untuk branding.
- Tips spacing.
- Contoh penggunaan tipografi.
Satu content pillar dapat menghasilkan banyak konten.
Kesalahan dalam Membuat Content Pillar
Hindari:
- Membuat terlalu banyak kategori.
- Memilih topik yang tidak berhubungan dengan niche.
- Tidak memahami target audiens.
- Tidak mengevaluasi performa.
- Hanya membuat satu jenis konten.
- Mengubah kategori terlalu sering.
Tips Membuat Content Pillar
Gunakan rumus:
Niche + Audiens + Kebutuhan + Keahlian + Data Analytics.
Kelima unsur tersebut dapat membantu creator menentukan kategori yang lebih relevan.
Kesimpulan
Apa itu content pillar? Content pillar adalah kategori utama yang menjadi dasar pembuatan konten. Dengan content pillar, creator dapat menjaga fokus akun, menemukan ide lebih mudah, membuat content calendar, dan mengevaluasi performa berdasarkan kategori.
Untuk pemula, mulailah dengan 3–5 kategori utama yang sesuai dengan niche dan kebutuhan audiens.
Kemudian gunakan analytics untuk mengetahui kategori mana yang mendapatkan respons paling baik dan mengembangkan strategi konten berikutnya.
🔥 DAFTAR SEKARANG – KONSULTASI GRATIS! 🔥
Ingin belajar membaca analytics, mengevaluasi performa konten, atau mengembangkan strategi content creation berdasarkan data?
Kami siap membantu memberikan arahan dan solusi sesuai kebutuhan Anda.
Keuntungan yang Anda Dapatkan:
✅ Gratis konsultasi
✅ Respon cepat
✅ Pelayanan ramah
✅ Solusi sesuai kebutuhan
✅ Panduan memahami analytics
✅ Membantu mengembangkan strategi konten
📍 Alamat Kantor:
Ruko Mitra Niaga, Jl. Raya Abdul Gani No. 5, Jatimulya, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat 16413
📲 Konsultasi Sekarang:
👉 WhatsApp: Konsultasi via WhatsApp
Jangan hanya membuat konten dan menunggu hasil. Pelajari datanya, pahami audiens, evaluasi strategi, lalu gunakan hasilnya untuk membuat konten yang lebih baik.
Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan konsultasi gratis dan mulai mengembangkan strategi content creator berbasis data!

