Untitled design (5)
<linearGradient id="sl-pl-triple-spinner-svg-grad01" linear-gradient(90deg, #ff8c59, #ffb37f 24%, #a3bf5f 49%, #7ca63a 75%, #527f32)
0%
Loading ...

Email : Digitalindoacademy@gmail.com | Hubungi : 0813-1982-2025 | Jam Operasional : 09:00 – 22:00 WIB

Apa Itu Content Pillar dan Bagaimana Cara Menentukannya

link selengkapnya : @digitalindoacademy.com

Apa Itu Content Pillar dan Bagaimana Cara Menentukannya

Apa Itu Content Pillar?

Content pillar adalah kategori atau tema utama yang digunakan sebagai dasar dalam membuat berbagai konten. Content pillar membantu creator menjaga arah pembahasan agar tetap sesuai dengan niche dan target audiens.

Dengan content pillar, creator tidak perlu mencari ide baru dari awal setiap kali ingin membuat konten.

Mengapa Content Pillar Penting?

1. Membantu Menentukan Ide Konten

Content pillar menjadi sumber untuk mengembangkan banyak ide.

Misalnya niche Desain Grafis memiliki content pillar:

  • Tips desain.
  • Tutorial.
  • Fotografi.
  • Branding.
  • Portofolio.

Setiap kategori tersebut dapat menghasilkan banyak topik.

2. Membantu Menjaga Fokus

Content pillar membantu akun tetap memiliki arah yang jelas sehingga audiens lebih mudah memahami topik utama yang dibahas.

3. Mempermudah Content Planning

Creator dapat mengatur jadwal berdasarkan kategori konten.

4. Membantu Menganalisis Performa

Creator dapat membandingkan performa setiap content pillar untuk mengetahui kategori mana yang mendapatkan respons terbaik.


Bagaimana Cara Menentukan Content Pillar?

1. Tentukan Niche

Pertama, tentukan bidang utama akun.

Contohnya:

Desain Komunikasi Visual.

2. Kenali Target Audiens

Cari tahu siapa yang ingin dijangkau.

Contohnya:

Pelajar dan pemula yang ingin belajar desain.

3. Cari Kebutuhan Audiens

Perhatikan pertanyaan dan masalah yang sering mereka hadapi.

Contohnya:

  • Sulit memilih font.
  • Bingung menentukan warna.
  • Tidak tahu membuat layout.
  • Kesulitan menggunakan software desain.

4. Kelompokkan Topik

Kelompokkan berbagai masalah tersebut ke dalam beberapa kategori.

Contohnya:

Tutorial: Cara menggunakan software.

Tips: Cara memilih font.

Edukasi: Teori warna.

Inspirasi: Referensi desain.

Portofolio: Hasil karya.


Berapa Banyak Content Pillar yang Sebaiknya Digunakan?

Tidak ada jumlah yang wajib.

Untuk pemula, 3–5 content pillar dapat menjadi titik awal yang sederhana.

Contohnya:

  1. Edukasi.
  2. Tutorial.
  3. Inspirasi.
  4. Portofolio.
  5. Behind the scenes.

Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan niche dan kemampuan produksi.


Contoh Content Pillar untuk Content Creator DKV

1. Edukasi Desain

Contoh:

“Apa Itu Hierarki Visual dalam Desain?”

2. Tutorial

Contoh:

“Cara Membuat Poster Sederhana di Photoshop.”

3. Fotografi

Contoh:

“5 Tips Fotografi Produk untuk Pemula.”

4. Portofolio

Contoh:

“Proses Membuat Identitas Visual Sebuah Brand.”

5. Behind the Scenes

Contoh:

“Proses Membuat Poster dari Sketsa hingga Final.”


Bagaimana Analytics Membantu Menentukan Content Pillar?

Analytics dapat digunakan untuk membandingkan performa masing-masing kategori.

Contoh:

Content PillarViewsSavesShares
Tutorial10.000900350
Edukasi7.000600200
Portofolio5.000250100
Behind the scenes8.000400180

Dalam contoh tersebut, Tutorial mendapatkan performa yang kuat pada saves dan shares.

Creator dapat mengembangkan lebih banyak topik tutorial, sambil tetap mempertahankan kategori lainnya agar akun tidak terlalu monoton.


Apakah Content Pillar Harus Selalu Sama?

Content pillar dapat berkembang.

Jika data menunjukkan audiens mulai tertarik pada topik baru yang masih sesuai dengan niche, creator dapat menguji kategori tersebut.

Contohnya:

Awalnya:

Desain → Tutorial → Portofolio

Kemudian berdasarkan respons audiens, creator dapat menambahkan:

Karier DKV → Tips PKL → Portofolio Kreatif

Perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar identitas akun tetap jelas.


Bagaimana Cara Membuat Banyak Ide dari Satu Content Pillar?

Misalnya content pillar:

Tipografi.

Dapat dikembangkan menjadi:

  1. Apa itu tipografi?
  2. Jenis-jenis font.
  3. Cara memilih font.
  4. Kesalahan menggunakan font.
  5. Kombinasi font.
  6. Hierarki tipografi.
  7. Font untuk poster.
  8. Font untuk branding.
  9. Tips spacing.
  10. Contoh penggunaan tipografi.

Satu content pillar dapat menghasilkan banyak konten.


Kesalahan dalam Membuat Content Pillar

Hindari:

  1. Membuat terlalu banyak kategori.
  2. Memilih topik yang tidak berhubungan dengan niche.
  3. Tidak memahami target audiens.
  4. Tidak mengevaluasi performa.
  5. Hanya membuat satu jenis konten.
  6. Mengubah kategori terlalu sering.

Tips Membuat Content Pillar

Gunakan rumus:

Niche + Audiens + Kebutuhan + Keahlian + Data Analytics.

Kelima unsur tersebut dapat membantu creator menentukan kategori yang lebih relevan.

Kesimpulan

Apa itu content pillar? Content pillar adalah kategori utama yang menjadi dasar pembuatan konten. Dengan content pillar, creator dapat menjaga fokus akun, menemukan ide lebih mudah, membuat content calendar, dan mengevaluasi performa berdasarkan kategori.

Untuk pemula, mulailah dengan 3–5 kategori utama yang sesuai dengan niche dan kebutuhan audiens.

Kemudian gunakan analytics untuk mengetahui kategori mana yang mendapatkan respons paling baik dan mengembangkan strategi konten berikutnya.


🔥 DAFTAR SEKARANG – KONSULTASI GRATIS! 🔥

Ingin belajar membaca analytics, mengevaluasi performa konten, atau mengembangkan strategi content creation berdasarkan data?

Kami siap membantu memberikan arahan dan solusi sesuai kebutuhan Anda.

Keuntungan yang Anda Dapatkan:

✅ Gratis konsultasi
✅ Respon cepat
✅ Pelayanan ramah
✅ Solusi sesuai kebutuhan
✅ Panduan memahami analytics
✅ Membantu mengembangkan strategi konten

📍 Alamat Kantor:

Ruko Mitra Niaga, Jl. Raya Abdul Gani No. 5, Jatimulya, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat 16413

📲 Konsultasi Sekarang:

👉 WhatsApp: Konsultasi via WhatsApp

Jangan hanya membuat konten dan menunggu hasil. Pelajari datanya, pahami audiens, evaluasi strategi, lalu gunakan hasilnya untuk membuat konten yang lebih baik.

Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan konsultasi gratis dan mulai mengembangkan strategi content creator berbasis data!

Share:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

link selengkapnya : @digitalindoacademy.com Bagaimana Cara Content Creator Menentukan Waktu Posting? Apa Itu Waktu Posting? Waktu posting adalah waktu ketika content...
link selengkapnya : @digitalindoacademy.com Bagaimana Cara Content Creator Menggunakan Storytelling? Apa Itu Storytelling dalam Content Creation? Storytelling adalah teknik menyampaikan informasi...
link selengkapnya : @digitalindoacademy.com Content Creator di Era Digital Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara seseorang berkarya dan berkomunikasi. Salah satu...